Arsip untuk kategori ‘Islam’
Karena Dia Manusia Biasa
Setiap kali ada teman yang mau menikah, saya selalu mengajukan pertanyaan yang sama. Kenapa kamu memilih dia sebagai suamimu/istrimu? Jawabannya sangat beragam. Dari mulai jawaban karena Allah hingga jawaban duniawi (cakep atau tajir, manusiawi lah). Tapi ada satu jawaban yang sangat berkesan di hati saya.
Hingga detik ini saya masih ingat setiap detail percakapannya. Jawaban salah seorang teman yang baru saja menikah. Proses menuju pernikahannya sungguh ajaib. Mereka hanya berkenalan 2 bulan. Lalu memutuskan menikah. Persiapan pernikahan hanya dilakukan dalam waktu sebulan saja. Kalau dia seorang akhwat, saya tidak akan heran. Proses pernikahan seperti ini sudah lazim.
Dia bukanlah akhwat, sama seperti saya. Satu hal yang pasti, dia tipe wanita yang sangat berhati-hati dalam memilih suami. Trauma dikhianati lelaki membuat dirinya sulit untuk membuka diri. Ketika dia memberitahu akan menikah, saya tidak menanggapi dengan serius. Mereka berdua baru kenal sebulan. Tapi saya berdoa, semoga ucapannya menjadi kenyataan. Saya tidak ingin melihatnya menangis lagi.
Sebulan kemudian dia menemui saya. Dia menyebutkan tanggal pernikahannya. Serta memohon saya untuk cuti, agar bisa menemaninya selama proses pernikahan. Begitu banyak pertanyaan dikepala saya. Asli. Saya pengin tau, kenapa dia begitu mudahnya menerima lelaki itu.
Ada apakan gerangan? Tentu suatu hal yang istimewa. Hingga dia bisa memutuskan menikah secepat ini. Tapi sayang, saya sedang sibuk sekali waktu itu (sok sibuk sih aslinya). Saya tidak bisa membantunya mempersiapkan pernikahan. Beberapa kali dia telfon saya untuk meminta pendapat tentang beberapa hal. Beberapa kali saya telfon dia untuk menanyakan perkembangan persiapan pernikahannya. That’s all. Kita tenggelam dalam kesibukan masing-masing.
Saya menggambil cuti sejak H-2 pernikahannya. Selama cuti itu saya memutuskan untuk menginap dirumahnya. Jam 11 malam, H-1 kita baru bisa ngobrol -hanya- berdua di taman rumahnya. Hiruk pikuk persiapan akad nikah besok pagi, sungguh membelenggu kita. Padahal rencananya kita ingin ngobrol tentang banyak hal. Akhirnya, bisa juga kita ngobrol berdua. Ada banyak hal yang ingin saya tanyakan. Dia juga ingin bercerita banyak pada saya.
“Aku gak bisa tidur.” Dia memandang saya dengan wajah memelas. Saya paham kondisinya saat ini. Kita melanjutkan ngobrol sambil berbisik-bisik. Kita berbicara banyak hal, tentang masa lalu dan impian-impian kita. Wajah sumringahnya terlihat jelas dalam keremangan lampu taman.
“Kenapa kamu memilih dia?” Dia tersenyum simpul lalu bangkit dari duduknya sambil meraih HP disaku bajunya. Ia masuk dalam kamar berlahan dia membuka laci meja riasnya dan kembali ke taman lalu menyerahkan selembar amplop pada saya. Saya menerima HP dari tangannya. Amplop putih panjang dengan kop surat perusahaan tempat calon suaminya bekerja. Apaan sih. Saya memandangnya tak mengerti. Eeh, dianya malah ngikik geli.
“Buka aja.” Sebuah kertas saya tarik keluar. Kertas polos ukuran A4, saya menebak warnanya pasti putih hehehe. Saya membaca satu kalimat di atas dideretan paling atas.
“Busyet dah nih orang.” Saya menggeleng-gelengkan kepala sambil menahan senyum. Sementara dia Cuma ngikik melihat ekspresi saya. Saya memulai membacanya. Dan sampai saat inipun saya masih hapal dengan kata-katanya. Begini isi surat itu.
Bila Aku Jatuh Cinta
Allahu Rabbi aku minta izin
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Jangan biarkan cinta untuk-Mu berkurang
Hingga membuat lalai akan adanya Engkau
Allahu Rabbi
Aku punya pinta
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Penuhilah hatiku dengan bilangan cinta-Mu yang tak terbatas
Biar rasaku pada-Mu tetap utuh
Allahu Rabbi
Izinkanlah bila suatu saat aku jatuh cinta
Pilihkan untukku seseorang yang hatinya penuh dengan
kasih-Mu
dan membuatku semakin mengagumi-Mu
Allahu Rabbi
Bila suatu saat aku jatuh hati
Pertemukanlah kami
Berilah kami kesempatan untuk lebih mendekati cinta-Mu
Allahu Rabbi
Pintaku terakhir adalah seandainya kujatuh hati
Jangan pernah Kau palingkan wajah-Mu dariku
Anugerahkanlah aku cinta-Mu…
Cinta yang tak pernah pupus oleh waktu
Amin !
Rahasia SUMUR ZAM-ZAM
Selama ini kita mengenal sumur Zamzam dari buku-buku agama. Namun sebenarnya ada sisi ilmiah saintifiknya juga looh. Cabang ilmu geologi yang mempelajari tentang air adalah hydrogeologi.

Sumur Zam-zam yang sekarang ini kita lihat adalah sumur yang digali oleh Abdul Muthalib kakeknya Nabi Muhammad. Sehingga saat ini, dari “ilmu persumuran” maka sumur Zam-zam termasuk kategori sumur gali (Dug Water Well).
Dimensi dan Profil Sumur Zam-zam
Bentuk sumur Zam-zam dapat dilihat dibawah ini.

Sumur ini memiliki kedalaman sekitar 30.5 meter. Hingga kedalaman 13.5 meter teratas menembus lapisan alluvium Wadi Ibrahim. Lapisan ini merupakan lapisan pasir yang sangat berpori. Lapisan ini berisi batupasir hasil transportasi dari lain tempat. Mungkin saja dahulu ada lembah yang dialiri sungai yang saat ini sudah kering. Atau dapat pula merupakan dataran rendah hasil runtuhan atau penumpukan hasil pelapukan batuan yang lebih tinggi topografinya.
Dibawah lapisan alluvial Wadi Ibrahim ini terdapat setengah meter (0.5 m) lapisan yang sangat lulus air (permeable). Lapisan yang sangat lulus air inilah yang merupakan tempat utama keluarnya air-air di sumur Zam-zam.
Tukang BAKSO
Di suatu senja sepulang kantor, saya masih berkesempatan untuk ngurus tanaman di depan rumah, sambil memperhatikan beberapa anak asuh yang sedang belajar menggambar peta, juga mewarnai. Hujan rintik rintik selalu menyertai di setiap sore di musim hujan ini.
Di kala tangan sedikit berlumuran tanah kotor,…terdengar suara tek…tekk.. tek…suara tukang bakso dorong lewat. Sambil menyeka keringat…, ku hentikan tukang bakso itu dan memesan beberapa mangkok bakso setelah menanyakan anak – anak, siapa yang mau bakso?
“Mauuuuuuuuu. …”, secara serempak dan kompak anak – anak asuhku menjawab.
Selesai makan bakso, lalu saya membayarnya. …
Ada satu hal yang menggelitik fikiranku selama ini ketika saya membayarnya, si tukang bakso memisahkan uang yang diterimanya. Yang satu disimpan dilaci, yang satu ke dompet, yang lainnya ke kaleng bekas kue semacam kencleng. Lalu aku bertanya atas rasa penasaranku selama ini.
“Mang kalo boleh tahu, kenapa uang – uang itu Emang pisahkan? Barangkali ada tujuan ?”
“Iya pak, Emang sudah memisahkan uang ini selama jadi tukang bakso yang sudah berlangsung hampir 17 tahun. Tujuannya sederhana saja, Emang hanya ingin memisahkan mana yang menjadi hak Emang, mana yang menjadi hak orang lain / tempat ibadah, dan mana yang menjadi hak cita – cita penyempurnaan iman “.
“Maksudnya.. …?”, saya melanjutkan bertanya.
Satu MENIT SAJA!
Betapa besarnya nilai uang kertas senilai Rp.100.000 apabila dibawa ke masjid untuk disumbangkan; tetapi betapa kecilnya kalau dibawa ke Mall untuk dibelanjakan!
Betapa lamanya melayani Allah selama lima belas menit namun betapa singkatnya kalau kita melihat film.
Betapa sulitnya untuk mencari kata-kata ketika berdoa (spontan) namun betapa mudahnya kalau mengobrol atau bergosip dengan pacar / teman tanpa harus berpikir panjang-panjang.
Betapa asyiknya apabila pertandingan bola diperpanjang waktunya ekstra namun kita mengeluh ketika khotbah di masjid lebih lama sedikit daripada biasa.
Betapa sulitnya untuk membaca satu lembar Al-qur’an tapi betapa mudahnya membaca 100 halaman dari novel yang laris.
Betapa getolnya orang untuk duduk di depan dalam pertandingan atau konser namun lebih senang berada di saf paling belakang ketika berada di Masjid
Betapa Mudahnya membuat 40 tahun dosa demi memuaskan nafsu birahi semata, namun alangkah sulitnya ketika menahan nafsu selama 30 hari ketika berpuasa.
Betapa sulitnya untuk menyediakan waktu untuk sholat 5 waktu; namun betapa mudahnya menyesuaikan waktu dalam sekejap pada saat terakhir untuk event yang menyenangkan.
Betapa sulitnya untuk mempelajari arti yang terkandung di dalam al qur’an; namun betapa mudahnya untuk mengulang-ulangi gosip yang sama kepada orang lain.
Betapa mudahnya kita mempercayai apa yang dikatakan oleh koran namun betapa kita meragukan apa yang dikatakan oleh Kitab Suci AlQuran.
Betapa Takutnya kita apabila dipanggil Boss dan cepat-cepat menghadapnya namun betapa kita berani dan lamanya untuk menghadapNya saat kumandang azan menggema.
Betapa setiap orang ingin masuk surga seandainya tidak perlu untuk percaya atau berpikir, atau mengatakan apa-apa, atau berbuat apa-apa.
Betapa kita dapat menyebarkan seribu lelucon melalui e-mail, dan menyebarluaskannya dengan FORWARD seperti api; namun kalau ada mail yang isinya tentang Kerajaan Allah betapa seringnya kita ragu-ragu, enggan membukanya dan mensharingkannya, serta langsung klik pada icon DELETE.
sumber : millist tetangga
Saham Halal atau HARAM???
Trading sebelum menjadi istilah dalam capital dan financial market dengan segala distorsinya akibat berbagai penyalahgunaan, substansinya adalah aktivitas jual beli atau bai’. Prinsip umum syariah dalam jual beli sebagaimana dapat disimpulkan dari pendapat para ulama dalam kitab-kitab fiqih seperti M. Rifa’i dalam Kifayatul Akhyar (184) dan Wahbah Az-Zuhaili dalam al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu yaitu:
- Pada dasarnya diperbolehkan transaksi jual beli sebagai salah satu sarana yang baik dalam mencari rezki. (QS.al-Baqarah:194, an-Nisa’:29)
- Barang ataupun instrumen yang diperjualbelikan itu harus halal sehingga dilarang menjualbelikan barang haram seperti miras, narkoba, bunga bank ribawi. (QS.Al-Maidah: 3, 90)
- Bermanfaat dan bermaslahat dengan adanya nilai guna bagi konsumen maupun pembeli serta tidak membahayakan.
- Barang yang diperjualbelikan dapat diserahkan, baik secara langsung keseluruhan maupun secara simbolis
- Barang yang diperjualbelikan harus jelas keadaannya, sifat-sifatnya, kualitasnya, jumlah dan satuannya dan karakteristik lainnya.
- Dilakukan proses “ijab qabul” baik dalam arti tradisionalnya maupun modern. seperti dalam paper trading yang menampilkan dokumen dagang berupa kertas maupun elektronic trading/ e-commerce yang menampilkan data komputer dan data elektronik lainnya (paperless trading). Kedua media tersebut substansinya menunjukkan sifat barang, mutu, jenis, jaminan atas kebenaran data dan dokumen serta bukti kesepakatan transaksi (dealing).
- Transaksi dilangsungkan atas dasar saling sukarela (‘an taradhin), kesepahaman dan kejelasan. (QS. An-Nisa’:29)
- Tidak ada unsur penipuan maupun judi (gambling). (QS.al-Baqarah:278, al-Maidah: 90)
- Adil, jujur dan amanat (QS.al-Baqarah:278)
- Dalil umum transaksi jual-beli dalam Allah berfirman: “…dan Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba…” (QS.al-Baqarah: 275). “Hai orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu,…” (QS. al-Nisa’ : 29). “Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu…” (QS. al-Ma’idah : 1).“…kamu tidak (boleh) menganiaya dan tidak (pula) dianiaya” (QS. al-Baqarah: 279).
ROKOK = Bikin Hidup Makin REDUP…
Menurut dr. Ahmad Huduyo dari RS Persahabatan – Jakarta, Rokok atau Tembakau telah dikenal masyarakat Indian di Amerika. Columbus ketika menemukan benua Amerika tahun 1492 mencatat bahwa penduduk asli telah menggunakan daun tembakau kering yang digulung dan diisap menggunakan pipa pada acara ritual mereka.
Pada abad ke-17, kaum imigran Inggris membuka perkebunan di Maryland dan Virginia dengan bibit tembakau yang dibawa dari Amerika Selatan. Sejak itulah perkebunan dan pemanfaatan tembakau meluas ke seluruh dunia, mulai dari Eropa, Asia Tengah, hingga Asia Tenggara seperti Indonesia yang terkenal dengan tembakau “Deli” sebagai pembungkus cerutu berkualitas tinggi.
DIANGGAP BERKHASIAT
Ketika dikenal pertama kali, rokok dianggap punya khasiat dan pengaruh baik kepada kesehatan. Masih menurut penuturan ahli paru-paru RS Persahabatan, dr Ahmad Hudoyo, sekitar abad ke-16, Mr Jean Nicot, seorang duta besar Prancis di Lisabon, yang namanya diabadikan dan diberikan kepada tumbuhan tembakau, Nicotiana Tabacum, mempromosikan daun tembakau berkhasiat untuk menyembuhkan penyakit radang saluran napas (Bronchitis), asma, dan rematik.
Sebab itu, perkembangan tumbuhan itu meluas secara cepat. Rokok atau sigaret, yaitu daun tembakau kering yang dibungkus kertas, pertama kali dibuat di Brasil pada abad ke-18.
Mesin pembuat pertama kali diciptakan pada tahun 1870, menjelang tahun 188. Data yang diperoleh mencatat sekitar 1.300 juta batang rokok dihisap penduduk Amerika Serikat yang berpenduduk 50 juta.
Beberapa tahun yang lalu, ketika penduduk AS berjumlah 204 juta, jumlah batang rokok yang dihisap tercatat sebanyak 536,4 miliar batang rokok. Berarti terjadi kenaikan produksi 133 kali lebih cepat dibandingkan kenaikan jumlah penduduk.
Proposal Menikah… =)
KADO BUAT YANG MAU DAN SIAP MENIKAH..BARAKALLAHU !!
Latar Belakang
Ibunda dan Ayahanda yang sangat saya hormati, saya cintai dan sayangi, semoga Allah selalu memberkahi langkah-langkah kita dan tidak putus-putus memberikan nikmatNya kepada kita. Amin
Ibunda dan Ayahanda yang sangat saya hormati..sebagai hamba Allah, saya telah diberi berbagai nikmat. Maha Benar Allah yang telah berfirman : “Kami akan perlihatkan tanda-tanda kebesaran kami di ufuk-ufuk dan dalam diri mereka, sehingga mereka dapat mengetahui dengan jelas bahwa Allah itu benar dan Maha Melihat segala sesuatu”.
Nikmat tersebut diantaranya ialah fitrah kebutuhan biologis, saling membutuhkan terhadap lawan jenis.. yaitu: Menikah ! Fitrah pemberian Allah yang telah lekat pada kehidupan manusia, dan jika manusia melanggar fitrah pemberian Allah, hanyalah kehancuran yang didapatkannya..Na’udzubillah ! Dan Allah telah berfirman : “Janganlah kalian mendekati zina, karena zina adalah perbuatan yang buruk lagi kotor” (Qs. Al Israa’ : 32).
Ibunda dan Ayahanda tercinta..melihat pergaulan anak muda dewasa itu sungguh amat memprihatinkan, mereka seolah tanpa sadar melakukan perbuatan-perbuatan maksiat kepada Allah. Seolah-olah, dikepala mereka yang ada hanya pikiran-pikiran yang mengarah kepada kebahagiaan semu dan sesaat. Belum lagi kalau ditanyakan kepada mereka tentang menikah. “Saya nggak sempat mikirin kawin, sibuk kerja, lagipula saya masih ngumpulin barang dulu,” ataupun Kerja belum mapan , belum cukup siap untuk berumah tangga, begitu kata mereka, padahal kurang apa sih mereka. Mudah-mudahan saya bisa bertahan dan bersabar agar tak berbuat maksiat. Wallahu a’lam.
Kisah NYATA
Ada seorang pemuda arab yang baru saja me-nyelesaikan bangku kuliahnya di Amerika. Pemuda ini adalah salah seorang yang diberi nikmat oleh Allah berupa pendidikan agama Islam bahkan ia mampu mendalaminya. Selain belajar, ia juga seorang juru dakwah Islam. Ketika berada di Amerika , ia berkenalan dengan salah seorang Nasrani. Hubungan mereka semakin akrab, dengan harapan semoga Allah SWT memberinya hidayah masuk Islam.Pada suatu hari mereka berdua berjalan-jalan di sebuah perkampungan di Amerika dan melintas di dekat sebuah gereja yang terdapat di kampung tersebut. Temannya itu meminta agar ia turut masuk ke dalam gereja. Semula ia berkeberatan. Namun karena ia terus mendesak akhirnya pemuda itupun memenuhi permintaannya lalu ikut masuk ke dalam gereja dan duduk di salah satu bangku dengan hening, sebagaimana kebiasaan mereka. Ketika pendeta masuk, mereka serentak berdiri untuk memberikan penghor-matan lantas kembali duduk. Di saat itu si pendeta agak terbelalak ketika meli-hat kepada para hadirin dan berkata, “Di tengah kita ada seorang muslim. Aku harap ia keluar dari sini.” Pemuda arab itu tidak bergeming dari tempatnya. Pendeta tersebut mengucapkan perkataan itu berkali-kali, namun ia tetap tidak bergeming dari tempatnya. Hingga akhirnya pendeta itu berkata, “Aku minta ia keluar dari sini dan aku menjamin keselamatannya.” Barulah pemuda ini beranjak keluar. Di ambang pintu ia bertanya kepada sang pen-deta, “Bagaimana anda tahu bahwa saya seorang mus-lim.” Pendeta itu menjawab, “Dari tanda yang terdapat di wajahmu.” Kemudian ia beranjak hendak keluar. Namun sang pendeta ingin memanfaatkan keberadaan pemuda ini, yaitu dengan mengajukan beberapa pertanyaan, tujuannya untuk memojokkan pemuda tersebut dan sekaligus mengokohkan markasnya. Pemuda muslim itupun menerima tantangan debat tersebut. Sang pendeta berkata, “Aku akan mengajukan kepada anda 22 pertanyaan dan anda harus menja-wabnya dengan tepat.” Si pemuda tersenyum dan berkata,
Setengah Sajadah
Oleh Dikdik Andhika Ramdhan
“Kok sajadahnya dilipat dua kek?”, tanya seorang bocah berusia sekitar tiga tahunan kepada seorang kakek tua yang sebagian rambutnya sudah tidak lagi hitam, namun kini bersulam dalam dua warna.
Kakek tua itu hanya tersenyum dan menatap cucu lelakinya itu kemudian mempermainkan rambut pirangnya.
“Sudah, ayo ikuti kakek, kita sholat sunnat dulu!”, ajaknya. Sesaat kemudian mereka berdua larut dalam penghambaannya, mempersembahkan kembali rukuk dan sujudnya pada Ia yang maha kuasa. Usai mereka salam, tak lama kemudian waktu berselang, iqomat berkumandang. Kami semua berdiri dan bersiap untuk melaksanakan sholat berjamaah. Shaf-shaf kini tertata rapi memanjang dari ujung kiri hingga ke kanan ruangan masjid itu. Kakek tua itu lalu membuka lipatan sajadahnya, untuk kemudian meletakkannya dengan arah memanjang, hingga kini terbagi menutupi dua bagian tempat sujud, baginya dan bagi seorang pemuda asing yang berada di sampingnya. Bagian atas sajadah itu ia sengaja ia letakkan dibagian tempat sujud pemuda tadi. Sang cucu terheran melihatnya. Dan akupun tertegun saat itu. Namun segera kami mencoba menata kembali segala pikiran untuk berupaya dapat mempersembahkan shalat terbaik pada-Nya.
Setelah sholat, usai dzikir sejenak, kemudian kakek tua tadi berdiri dan beranjak hingga kemudian berlalu pergi bersama cucu lelakinya. Sekilas masih kudengar pembicaraan mereka ketika meninggalkan tempat sholatnya semula. Rupanya cucu lelakinya masih penasaran dengan tingkah kakeknya yang melipat dua sajadahnya ketika ia sholat sunnat, dan kemudian membukanya kembali lipatan sajadahnya menjadi dua bagian ketika berjamaah menjelang.
“Inilah artinya Islam”, sahutnya mengawali penerangannya pada sang cucu.
“Islam itu rahmatan lil’alamiin, yakni rahmat bagi sekalian alam. Wujudnya adalah dengan ber-Islam, maka salah satunya kita sebagai umatnya harus mampu menjadi rahmat pula bagi semua orang”, lanjutnya panjang lebar.
Aku nggak tahu bagaimana rona wajah serta gerak pikir bocah lelaki tadi menangkap penjelasan dari kakeknya. Namun yang jelas aku begitu malu mendengar apa yang disampaikan kakek tua tadi pada cucunya.
Memang, mungkin entah sejak kapan kita mengenal bahkan sampai hapal diluar kepala akan sebuah ungkapan bahwa Islam itu rahmatan li’alamiin, yang dalam aplikasinya seharusnya memang akan selalu mampu menghadirkan cahaya kedamaian, cahaya rahmat bagi seluruh alam, bukan hanya bagi orang-orang yang tunduk dan patuh dalam ke-Islam-annya, namun pula bagi semua orang yang ada di sekitarnya.
Namun, ternyata sepertinya begitu sulit hal itu terwujud dalam keseharian kita. Islam yang memang diturunkan oleh Alloh sebagai rahmatan lil’alamiin justru menjadi seakan sulit menjadi nyata. Kita selalu memaksa hari-hari yang kita lalui seakan kembali dan selalu berputar kembali pada satu arah yang sama, dan menempati posisi yang sama pula, kita sebagai ummat-Nya sangat jarang sekali untuk dapat menempatkan diri menjadi bagian dari rahmatan lil’alamiin, di mana keberadaan kita seharusnya dapat pula menjadi rahmat bagi yang lainnya.
Kita selalu berusaha untuk tampil sendiri, membusungkan dada, bahkan menyombongkan diri, melihat semua berdasar dari kacamata pribadi dan hanya untuk kepentingan pribadi semata. Kita terbuai dengan rasa individualis yang semakin menjadi dan seolah menyepak dengan kasar setiap kepentingan orang lain yang kita memandangnya tidak akan berpengaruh pada kepentingan diri ini. Na’udzubillah. ..
Bila sehelai sajadahpun ternyata bisa menjadi satu jalan untuk membimbing diri kita dalam menunaikan satu kewajiban, untuk mengibarkan panji-panji untuk berbagi dalam indahnya kebersamaan, hingga akhirnya rahmatan lil’alamiin bukan hanya menjadi sebuah slogan semata, atau hanya menjadi satu rangkai kalimat yang selalu dan selalu kita hapal dalam nalar ini saja, namun pula kemudian dapat terealisasi dalam nyata.
Maka, semestinya mungkin hal lainpun juga akan bisa menjadikan diri ini untuk bisa lebih membuka hati, berupaya menjadi bagian dari rahmat-Nya, yang pula bisa menjadi rahmat bagi ummat lainnya. Karena, bukankah disatu waktu nanti, tak akan ada lagi yang pernah dan setia menemani kita, ketika tanah merah telah menutup rapat diri ini, terpisah dari kefanaan dunia. Hingga hanya ia, salah satunya yaitu hanya amalan yang menemani kita pada saatnya.
Wallahu’alam bish-shawab.
sumber : eramuslim.com
[Mata adalah penuntun, dan hati adalah pendorong dan penuntut. Mata memiliki kenikmatan pandangan dan hati memiliki kenikmatan pencapaian. Keduanya merupakan sekutu yang mesra dalam setiap tindakan dan amal perbuatan manusia, dan tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lain]






