Sendit’s World

…selalu berusaha menjadi lebih baik…

Arsip untuk kategori ‘Aku

My TRUE Story..

tinggalkan komentar »

Sabtu, 30 Agustus 2008

Hari ini aku berencana untuk menghadiri seminar gratis yang diadakan oleh OASE Entrepreneur Academy di Gedung Surveyor Indonesia jam 1 siang. Aku melihat iklannya kemarin Jum’at, 29 September 2008 di Koran SINDO. Artinya paling nggak jam 11 aku harus udah ada jalan, biar gak telat…

Pagi ini, tepatnya sekitar jam 9, aku kedatangan 2 tamu kecil alias anak-anak tetangga deket kost. Biasa..mereka pada merengek minta main game bola di komputer yang udah sering mereka mainin kalo kesini. Awalnya males juga ngladenin mereka, secara gitu, bentar lagi aku mau mandi+beres-beres kamar, kan kata tulisan di atas jam 11 harus udah jalan. Tapi ya namanya anak-anak, rayuannya maut, akhirnya luluh juga buat ngebiarin mereka main-main..apa salahnya kan ngehibur hati anak-anak tetangga..toh mereka udah akrab sama aku..Mereka main kurang lebih sampe jam 10 lebih.

Setelah mereka pulang akupun buru-buru mandi karena jam udah mulai bergerak ke menit 15 dari jam 10. Setelah selesai langsung jalan. Perut terasa keroncongan karena belum sarapan. Akhirnya ”nyarap” dulu di Warung Sunda Mang Kasmat yang ada di deket gang masuk kost ku. Setelah makan langsung ke Jalan Margonda untuk nunggu bis yang ke Grogol, tapi mampir bentar ke kios koran, beli koran SINDO buat baca-baca. Kerika nunggu di halte, aku ketemu anak Mesin 2006 (lupa namanya..Parah!!), ngobrol bentar, ternyata dia mau balik ke rumah nya di Priuk. Menunggu sebentar, bis yang jurusan Grogol lewat dan aku pamit duluan ke Mr. X ini.

Begitu naik bis, udara udah krasa sesak karena memang sudah penuh penumpang, tapi Alhamdulillah masih ada kursi buat aku duduk. Dan perjalanan pun semakin trasa panas..di luar panas..di dalam panas…begitulah manusia, bisanya ngeluh doang..hehehehe…

Dua kali kami menjumpai insiden kecelakaan yang melibatkan sepeda motor. Macet pun sudah biasa..Jakarta gitu loh…

Baca entri selengkapnya »

Ditulis oleh sendit

Agustus 31, 2008 pada 3:16 am

Ditulis dalam Aku

LISTRIK MATI, RAKYAT MERANA!

tinggalkan komentar »

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan negara kepulauan yang berjajar dari Sabang sampai ke Merauke. Kesemuanya itu merupakan ranah wilayah yang menjadi tanggung jawab pemerintah untuk diperhatikan. Rakyat Indonesia pun mengharapkan pembangunan dalam segala bentuk dapat berjalan lancar dan merata hingga ke pelosok daerah.

Namun sangat disayangkan, hingga saat ini pembangunan “seolah-olah” terpusat di Pulau Jawa saja. Di pulau-pulau di luar Pulau Jawa masih banyak kita jumpai infrastruktur-infrastruktur seperti jalan dan penerangan yang masih belum tergarap dengan maksimal. Mungkin tidak mudah kita membayangkannya. Di Pulau Jawa saja yang notabene dekat dengan pusat pemerintahan, masih banyak rakyat yang belum merasakan penerangan yang optimal. Listrik dari PLN masih banyak yang belum menjamah hingga pelosok desa.

Bagaimana PLN bisa maksimal untuk menerangi seluruh pelosok tanah air, jika mengatasi krisis listrik seperti yang terjadi akhir-akhir ini saja masih kesulitan. Pemakaian listrik oleh masyarakat yang dari hari ke hari semakin tinggi, ditambah belum optimalnya kinerja pembangkit listrik yang dimiliki PLN hingga saat ini, membuat krisis listrik tidak terelakkan lagi.

Pemadaman listrik terjadi dimana-mana. Baik yang lewat pemberitahuan terlebih dahulu maupun yang langsung tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Semuanya itu sangat memberatkan masyarakat yang telah membayar tagihan listrik setiap bulannya, yang tentunya mengharapkan timbal balik yang setimpal berupa pelayanan yang optimal dari PLN.

Kerugian akibat pemadaman bergilir yang terjadi akhir-akhir ini juga sangat dirasakan oleh kalangan dunia usaha. Dan yang sangat merasakan adalah usaha kecil dan menengah yang bidang usahanya sangat bergantung pada aliran listrik dari PLN. Naiknya bahan baku akibat kenaikan BBM saja sudah membuat mereka menjerit. Apalagi ditambah pemadaman listrik yang tentunya membuat tingkat produksi dari usaha mereka semakin menurun yang akan berujung pada semakin kecilnya pendapatan yang mereka peroleh.

Upaya penghematan yang optimal belum cukup membantu mengatasi masalah ini. Selain harus menghidupi keluarganya, mereka para pelaku usaha juga menanggung karyawan-karyawati yang jumlahnya tidak sedikit. Padahal mereka merupakan salah satu penggerak roda perekonomian yang otomatis turut serta meningkatkan pertumbuhan di negeri kita ini.

Tentunya kita semuanya berharap, pemerintah dan PLN dapat terus bekerja optimal dan melakukan perencanaan-perencanaan yang jauh lebih matang, sehingga dapat menghindari lahirnya kebijakan yang pada akhirnya merugikan rakyat banyak dan menghambat laju pertumbuhan di Indonesia. Semoga!

Ditulis oleh sendit

Agustus 27, 2008 pada 12:41 pm

Ditulis dalam Aku

PILIH KASIH APARAT!

tinggalkan komentar »

Semua sama di mata hukum. Mungkin kalimat itu yang sering kita dengar di masyarakat. Indonesia merupakan negara hukum yang mewajibkan seluruh penduduknya untuk tunduk dan taat terhadap hukum yang berlaku di negara ini. Tidak peduli orang miskin atau kaya. Dari rakyat jelata sampai konglomerat. Semuanya memiliki hak dan kewajiban yang sama di mata hukum. Apabila melanggar, pasti ada dan dikenakan hukuman sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Tentunya dengan melewati proses hukum yang sudah ditetapkan.

Hal inilah yang cukup sulit kita temui di masyarakat. Rakyat jelata yang melakukan tindak pencurian dan tertangkap, akan dengan mudah dijebloskan ke dalam penjara. Bandingkan dengan pejabat-pejabat yang duduk enak di atas sana. Mereka yang sudah jelas-jelas korupsi, masih bisa bebas berkeliaran ke sana kemari. Bahkan jalan-jalan ke luar negeri. Apabila ditangkap dan akan dilakukan pemeriksaan, langsung berakting bak seorang bintang sinetron dengan berpura-pura sakit kalau tidak mau dikatakan sakit betulan.

Rumah tahanan atau biasa kita kenal dengan sebutan penjara, merupakan tempat atau sarana bagi para pelaku tindak kriminal untuk merasakan efek jera dari perbuatan yang telah dilakukannya. Tidur hanya beralas seadanya, dalam kungkungan jeruji besi yang setiap malam akan mengalirkan hawa dingin yang menusuk kulit, menjadi media yang tepat agar orang-orang yang berada di dalamnya menjadi sadar dan berubah menjadi lebih baik kedepannya. Belum ditambah dengan lamanya mereka berada di sana. Sangat disayangkan jika momen seperti itu tidak bisa mengubah mereka menjadi lebih baik selepasnya dari penjara nanti.

Namun hal itu bisa jadi tidak berlaku bagi pejabat atau orang-orang berkantung tebal. Masih sering kita jumpai, mereka diberikan fasilitas yang berbeda dan terkesan berlebihan. Karena sama saja memindahkan suasana kamar rumah mereka ke dalam penjara. Tempat tidur, TV, handphone, kipas angin, dan lainnya bisa dengan mudah dipindahkan ke dalam penjara. Semuanya itu tidak pernah lepas dari apa yang namanya uang. Dengan uang semuanya bisa terjadi. Sogok sana, semua lancar. Kasih sini, semua langsung tersedia.

Bagaimana Indonesia mau berubah kalau mental oknum aparat penegak hukumnya saja seperti itu? Apa mereka tidak malu dan merasa jijik memberikan makan anak dan istri mereka dengan uang haram? Sungguh sangat disayangkan. Hanya karena uang, harga diri pun bisa dibeli.

Sudah saatnya kita semua membuka hati dan pikiran. Mulailah dari diri sendiri untuk selalu berubah menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari.

 

Ditulis oleh sendit

Agustus 27, 2008 pada 12:38 pm

Ditulis dalam Aku

AYO PERANGI KEMISKINAN!

tinggalkan komentar »

Hingga saat ini kemiskinan masih banyak kita jumpai di sekitar kita. Sekalipun ada usaha-usaha untuk mengurangi jumlahnya, namun tetap saja belum banyak yang berhasil. Angka kemiskinan yang menurut pemerintah menurun dari tahun ke tahun diragukan validitasnya karena memang yang namanya data di atas kertas seringkali berbeda dengan kondisi riil di lapangan. Mengapa terjadi kemiskinan di negeri dengan kekayaan alam melimpah ini? Jumlah kekayaan alam yang disediakan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa untuk manusia pasti mencukupi. Hanya saja, apabila kekayaan alam ini tidak dikelola dengan benar ditambah dengan tangan-tangan kotor manusia, tentu akan terjadi ketimpangan dalam aplikasinya di lapangan. Jadi, faktor utama penyebab kemiskinan adalah buruknya distribusi kekayaan. Di sinilah pentingnya keberadaan sebuah sistem hidup yang berkesinambungan dan keberadaan negara yang mampu menjalankan sistem tersebut.

Kebijakan pemerintah Indonesia misalnya, yang menggunakan pendekatan subsidi tak mendidik dalam mengatasi kemiskinan demi mempertahankan popularitas. Contoh nyata adalah kebijakan bantuan langsung tunai (BLT) untuk keluarga miskin sebagai kompensasi kenaikan harga BBM beberapa waktu lalu. Kebijakan ini jelas-jelas sangat tidak mendidik masyarakat miskin untuk berkembang dan berkreasi. Kebijakan seperti ini hanya akan membuat masyarakat miskin menjadi manja dan malas untuk bekerja keras. Bahkan, hanya karena ingin mendapatkan BLT ada saja anggota masyarakat yang tidak masuk kategori penerima BLT tiba-tiba ingin disebut miskin agar menerima bagian. Sebenarnya kebanyakan rakyat miskin adalah pekerja keras. Oleh karena itu, mau tidak mau mereka harus bekerja untuk mempertahankan hidupnya dan keluarganya, bukan hanya bergantung pada bantuan pemerintah yang seringkali malah bersifat memanjakan.

Berilah KAIL, jangan beri IKANnya”

Peribahasa di atas mungkin sudah sering kita dengar. Memberi alat, ilmu, ataupun modal kepada seseorang agar berusaha memenuhi kebutuhannya sendiri, jauh lebih baik dibandingkan hanya sekedar memberinya uang dan makanan Memberi uang kepada si pengemis akan membuat pengemis tersebut menjadi konsumtif dan bisa membuat selamanya menjadi peminta-minta. Sejak dulu masyarakat Indonesia sudah terlalu dimanjakan dengan subsidi-subsidi yang diberikan pemerintah, yang justru lebih banyak dinikmati masyarakat menengah ke atas. Masih banyak masyarakat yang berada di bawah garis kemiskinan dan justru merekalah yang seharusnya menikmati subsidi-subsidi yang diberikan pemerintah.

Sesungguhnya manusia diberi kesempurnaan fisik dan akal yang merupakan potensi luar biasa untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Syaratnya, manusia harus diberi akses, sarana, dididik, dan diarahkan dengan benar agar dapat bebas berkreasi dan berinovasi. Minimnya lapangan pekerjaan seharusnya membuat masyarakat mandiri membuat suatu bidang usaha. Kendala terbesar yang selama ini dihadapi oleh masyarakat kita adalah masalah permodalan. Akses yang diberikan pemerintah ke arah sana masih sedikit dan tidak menjangkau sampai kalangan bawah. Selain masalah permodalan masih ada lagi masalah pengembangan SDM (Sumber Daya Manusia) yang masih harus diarahkan dan dibina hingga menjadi pribadi yang unggul. Masalah kemiskinan sering muncul akibat rendahnya kualitas sumberdaya manusia, baik dari sisi kepribadian maupun ketrampilan. Inilah yang disebut dengan kemiskinan kultural. Masalah ini dapat diatasi melalui penyediaan layanan pendidikan oleh negara. Hal ini dimungkinkan, karena pendidikan mengarah pada dua kualifikasi penting, yaitu terbentuknya berkepribadian yang kuat, sekaligus memiliki ketrampilan untuk berkarya. Seharusnya negara menyediakan layanan pendidikan secara cuma-cuma kepada rakyat. Sebab, pendidikan merupakan kebutuhan dasar bagi setiap individu. Layanan pendidikan ini akan meningkatkan kualitas sumberdaya manusia, dan selanjutnya akan mewujudkan individu-individu yang kreatif, inovatif, dan produktif. Dengan demkian kemiskinan kultural akan dapat teratasi. Menyediakan lapangan pekerjaan juga merupakan kewajiban negara. Dengan cara inilah, setiap orang akan jauh lebih produktif, sehingga kemiskinan sedikit-sedikit dapat teratasi hingga pada saatnya akan hilang dari bumi Indonesia.

Para pengambil keputusan seharusnya berkaca pada Muhammad Yunus, Penerima Nobel Perdamaian 2007. Keberhasilan Muhammad Yunus menanggulangi kemiskinan di Bangladesh kuncinya berdasarkan pada kepercayaan kepada orang miskin. Kelompok masyarakat lemah ini punya kepatuhan dan kedisplinan, yang akhirnya mampu mengentaskan dirinya sendiri dari kemiskinan. Berbagai pembelajaran di atas menunjukkan bahwa yang bisa menyelesaikan kemiskinan terutama adalah rakyat miskin sendiri. Peran pemerintah diperlukan untuk mengidentifikasi dan mengurangi berbagai hambatan yang membuat rakyat miskin sulit berkembang. Pemerintah juga diperlukan untuk memfasilitasi dan memberikan akses yang dibutuhkan rakyat miskin. Dalam kacamata ini, orang miskin juga dianggap sebagai potensi bagi pengembangan ekonomi secara keseluruhan bagi bangsa, bukan sekadar dianggap dan diperlakukan sebagai penyakit seperti selama ini.

Disiplin fiskal yang ketat, tata kelola pemerintahan yang baik, dan penggunaan anggaran negara sepenuhnya untuk kepentingan publik akan semakin menunjang berlangsungnya program pengentasan kemiskinan di luar solusi-solusi yang sudah dipaparkan di atas. Ketiganya dapat menadi tonggak awal bagi negara atau pemerintah untuk kedepannya menghilangkan kemiskinan dari bumi Indonesia ini. Selain itu, manajemen diri dari masing-masing indvidu di negeri ini dan kesadaran bertuhan juga mampu menadi solusi tentunya jika kita semua mau dan mampu melaksanakan dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-sehari. Saya jadi ingat kata-kata yang sering diucapkan oleh Aa Gym ketika menyampaikan ceramahnya. Ingat 3 M, mulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang kecil, dan mulai saat ini juga. Paling tidak ketiga prinsip itu yang harus kita renungkan dan pahami maksudnya. Mulai dari diri sendiri untuk selalu berharap pada cita-cita yang diinginkan, berusaha agar cita-cita atau keinginan tersebut tercapai, dan selalu berdo’a dan mengembalikan semuanya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mulai dari hal yang kecil untuk selalu bersemangat dalam menjalani kehidupan, karena sesuatu hal kecil yang sering kita lakukan akan menjadi sesuatu yang besar yang tidak kita kira sebelumnya. Mulai saat ini juga untuk mengatakan TIDAK pada kemiskinan, kebodohan, dan keputusasaan. Karena jika tidak saat ini, kapan lagi kita harus menunggu dan menunggu yang pada akhirnya justru tidak jadi kita lakukan. Kita sendiri yang akan menyesal karena waktu tidak pernah kembali walaupun hanya satu detik. Terus semangat menjalani hidup yang penuh tantangan dan ketidakpastian ini, hingga terwujud masyarakat Indonesia yang maju dan sejahtera. Amin.

Pramudita Aulia

Mahasiswa Departemen Teknik Mesin Universitas Indonesia

 

Ditulis oleh sendit

Agustus 27, 2008 pada 12:37 pm

Ditulis dalam Aku

KORUPTOR MATI, KORUPSI MATI!

tinggalkan komentar »

Semakin hari, semakin banyak saja orang-orang penting di negeri ini yang terjerat kasus korupsi. Dari anggota dewan, kejaksaan, sampai kepala daerah turut terlibat di dalam nya. Sistem dan bobroknya mental menjadi alasan klasik bertebarnya tindak korupsi di bumi khatulistiwa ini.

Dari ratusan juta sampai puluhan milyar rupiah uang rakyat yang berhasil dicuri hanya untuk memenuhi keserakahan dan nikmat dunia semata. Tidak memandang betapa besarnya kerugian yang ditimbulkan oleh para koruptor ini. Bahkan ada beberapa pihak yang menyebut bahwa tindak pidana korupsi jauh lebih berbahaya dibandingkan terorisme. Terorisme paling tidak memakan korban ratusan sampai ribuan orang “saja”. Sedangkan tindak pidana korupsi bisa memakan korban hingga satu generasi. Sangat dahsyat bahaya korupsi bagi negeri ini.

Sejauh ini Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bisa dibilang cukup berhasil memerangi tindak pidana korupsi dengan menangkap koruptor-koruptor yang tidak sedikit telah memakan uang rakyat. Namun sangat disayangkan, seringkali bergitu masuk ke peradilan, hukuman yang dikenakan kepada para koruptor bisa tidak sebanding dengan apa yang sudah mereka lakukan kepada rakyat banyak.

Sudah sepantasnya pemerintah lebih serius dan tegas dalam penerapan hukuman bagi koruptor. Sudah banyak wacana tentang hukuman mati bagi koruptor. Hukuman mati bisa dibilang hukuman yang adil, karena tingkat kejahatan para koruptor sudah setingkat dengan terorisme, bahkan lebih. Dengan mengakibatkan banyak rakyat yang semakin merana, dalam himpitan ekonomi yang tidak menentu, dan mengakibatkan jutaan anak putus sekolah, menambah bukti kuat bahwa tindak korupsi pantas untuk diganjar dengan hukuman mati. Karena hukuman mati dapat memberikan efek jera yang luar biasa bagi para koruptor dan peringatan bagi siapa saja untuk tidak melakukan tindak korupsi. Hal ini akan berdampak luas kedepannya. Orang-orang akan jauh lebih hati-hati dalam menghadapi kehidupan ini. Terutama yang berhubungan dengan uang dan jabatan.

Cina saja mampu untuk melaksanakan hukuman bagi para koruptor yang terbukti bersalah. Karena mereka sadar dan mengerti betapa besarnya efek korupsi bagi masyarakat. Dan dapat kita lihat, sampai hari ini tingkat korupsi di Cina sudah menurun drastis karena efek jera yang mereka terapkan. Pemerintah dapat mengambil contoh akan hal ini.

Bisa dibuat batasan, misalnya koruptor yang terbukti bersalah telah memakan uang rakyat di atas satu milyar rupiah dikenakan hukuman mati dan yang kurang dari satu milyar rupiah dikenakan hukuman seumur hidup, tentunya ditambah dengan mengembalikan uang hasil korupsi yang telah mereka lakukan kepada negara. Itu hanyalah permisalan. Pemerintah tentunya dapat merancang peraturan yang lebih baik dan tegas yang kedepannya mampu menghapus korupsi dari bumi pertiwi ini. Kita tunggu!

 

Ditulis oleh sendit

Agustus 27, 2008 pada 12:35 pm

Ditulis dalam Aku

3M untuk Memberantas Korupsi

tinggalkan komentar »

Tindak korupsi di negeri ini sudah sedemikian parah. Tidak hanya para elit politik yang duduk di kursi dewan, tetapi juga sampai menyentuh lapisan masyarakat di daerah-daerah. Sistem dan bobroknya mental menjadi alasan klasik bertebarnya tindak korupsi di bumi khatulistiwa ini.

Pemuda, dalam hal ini mahasiswa, merupakan salah satu elemen masyarakat yang kedepannya diharapkan mampu mengubah kondisi hangsa ini menjadi lebih baik. Masyarakat sangat mendambakan kehidupan yang jauh lebih baik daripada saat ini. Salah satunya yaitu berkurangnya (jika sulit untuk dihilangkan) praktek korupsi yang sudah banyak memakan uang rakyat. Tentunya mahasiswa dapat andil bagian dalam upaya pemerintah memberantas korupsi.

Sebagai contoh, selalu disiplin mengikuti kegiatan perkuliahan dan datang tepat waktu. Terlambat (tentunya tanpa alasan yang jelas) atau bahkan tidak masuk kuliah sama halnya kita telah melakukan korupsi, dalam hal ini korupsi waktu dan uang. Orang tua sudah bekerja keras agar kita dapat merasakan bangku kuliah. Di setiap waktu dari kegiatan perkuliahan yang kita lakukan ada tetesan keringat orang tua kita. Dan itu sangat bernilai harganya. Artinya jika kita mengabaikan kegiatan perkuliahan demi kegiatan lain yang tidak berguna dan hanya membuang-buang waktu, sama halnya kita telah mengkhianati kepercayaan yang sudah orang tua berikan kepada kita. Waktu adalah harta yang tidak ternilai harganya.

Kita masih ingat kata-kata Aa Gym yang terkenal. Mulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang kecil, dan mulai saat ini. Pemberantasan korupsi tidak akan berjalan efektif jika tidak dimulai dari diri kita sendiri. Sebelum berteriak di lapangan agar pemerintah memberantas yang namanya korupsi, apakah tidak sepatutnya kita menanyakan pada diri kita sendiri, sudahkah kita memberantas korupsi yang ada di dalam diri kita? Coba renungkan.

Yang kedua, sebelum bertidak lebih lanjut untuk memberantas korupsi yang besar, tentunya kita harus mampu mengatasi problematika korupsi-korupsi kecil yang masih banyak kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Tindak korupsi yang besar pasti berawal dari hal-hal kecil yang awalnya kita sepelekan.

Dan yang terakhir yaitu mulai saat ini juga. Mau sampai kapan kita menunggu. Lakukan saat ini juga untuk memberantas korupsi, sehingga kedepannya kita akan merasakan kehidupan yang jauh lebih baik.

Sudah saatnya mahasiswa mengubah image yang selama ini hanya menjadi agent of change. Perubahan sudah banyak terjadi, tapi tetap saja kondisi bangsa ini terpuruk seperti saat ini. Kita harus mampu menjadi agent of good change, agen perubahan yang mampu mengubah kondisi bangsa ini menjadi lebih baik. Semoga!

 

Ditulis oleh sendit

Agustus 27, 2008 pada 12:34 pm

Ditulis dalam Aku

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.