Lujo, Sang Pencabut Nyawa Mirip Ebola
ATLANTA (SuaraMedia News) – Para ilmuwan telah mengidentifikasi sebuah virus baru di Afrika yang menyebabkan pendarahan seperti virus Ebola yang dikenal mengerikan itu.
Virus yang dinamai “Lujo (LUJV)” itu menginfeksi lima warga di Zambia dan Afrika Selatan pada musim gugur lalu. Empat di antara mereka tewas, namun korban kelima bisa bertahan setelah mendapatkan perawatan sesuai rekomendasi ilmuwan.
“Virus ini benar-benar agresif,” kata Dr. Ian Lipkin dari Universitas Columbia, yang turut menemukan virus itu. Hasil laporan Lipkin dan para koleganya diterbitkan di laman jurnal ilmiah PLoS Pathogens, Kamis 28 Mei 2009.
“Belum jelas bagaimana orang pertama bisa terinfeksi. Namun hama itu datang dari keluarga virus yang ditemukan di binatang pengerat,” kata Dr Ian Lipkin, pakar epidemi Columbia University yang terlibat dalam penemuan itu, dikutip dari Associated Press, Jumat (29/5/2009).
Virus itu mulai menjangkit pada September tahun lalu, ketika seorang wanita yang berprofesi sebagai agen perjalanan di Lusaka, Zambia, sakit dengan demam yang terus memburuk. Dia kemudian diterbangkan ke Johannesburg, Afrika Selatan, hingga tewas di sana.

Seorang paramedis di Lusaka yang juga merawat dia juga jatuh sakit, lalu dikirim ke Johannesburg, dan meninggal dunia. Tiga korban lain yang terinfeksi merupakan pekerja kesehatan di Johannesburg.
Tim penyelidik yakin bahwa virus itu disebarkan dari orang-ke-orang melalui cairan tubuh. Namun , “Ini bukan jenis virus seperti flu yang dapat menyebar luas,” kata Dr. Anthony Fauci, direktur National Institute of Allergy and Infectious Diseases, yang mendanai penemuan virus itu.
Para penyelidik menduga bahwa sakit yang diderita para korban mirip dengan Ebola. Pasalnya, beberapa pasien mengalami pendarahan di gusi dan di sekitar bekas tusukan jarum suntik. Demikian ungkap Stuart Nichol, peneliti dari Pusat Pengendalian Penyakit (CDC). Penderita juga mengalami gejala demam, shock, koma, dan disfungsi organ.
Seorang penderita kemudian diberi obat ribavirin. Pasien yang bersangkutan kemudian membaik. Namun masih perlu diteliti lebih lanjut atas khasiat ribavirin bagi penderita Lujo
Nama “Lujo” diambil dari Lusaka dan Johannesburg, dua kota di mana virus itu pertama kali teridentifikasi.
Sumber : http://www.suaramedia.com/







berkunjung balik
Nice info…
Tapi kux serem banget ya
dianfi
Mei 30, 2009 pada 1:55 pm
kok gak berhenti2 ya, macam2 virus yg hadir setelah H1N5,H1N1, sekarang virus Lujo, mudah2an gak nyebrang ke negara kita ya.
bundadontworry
Mei 31, 2009 pada 3:14 am
Klo baca bukunya Jerry D. Gray, bisa jadi ini kerjaan nya AS dan kroni2nya….konspirasi di bidang kesehatan juga ada bunda…
semoga gak beneran….amin…
sendit
Mei 31, 2009 pada 4:13 am
Dulu AS mengatakan bahwa perang terhadap penyakit infeksi sudah berakhir dan kemenangan berada di fihak ilmu kedokteran. Namun ternyata dugaan tersebut meleset! Karena ternyata penyakit2 infeksi sampai saat ini belum kalah terutama yang disebabkan oleh virus yang tidak mempan antibiotik! Mereka secara genetik terus bermutasi untuk menciptakan strain2 yang lebih ganas….
Yari NK
Mei 31, 2009 pada 4:56 am
Itu dia Pak…saya yakin klo AS dan kroni2nya berada dibalik itu semua….
sendit
Mei 31, 2009 pada 6:25 am