Arsip untuk Mei 29th, 2009
Seorang Mahasiswi dapet Lotre Rp 100 Miliar
Gila bener..bener2 kaya mendadak…tapi namanya juga lotre…yo sama kayak yang diomongin Bang Oma…JUDI…haram boosss….
PERTH, KOMPAS.com — Seorang mahasiswi yang tidak disebutkan namanya, Kamis (28/5), mendapatkan hadiah lotre senilai 13 juta dollar Australia (sekitar Rp 100 miliar). Ini sebuah kejutan karena tiket lotre itu dia terima sebagai hadiah oleh ayahnya yang mengalami kesulitan keuangan 10 bulan lalu. Demikian pernyataan agen penyelenggara lotre di Australia.
Dalam pengumuman itu tidak disebutkan jati diri sang mahasiswa yang sangat beruntung itu, tetapi hanya disebutkan bahwa dia tinggal di pantai barat Perth. Lotre itu sendiri sebenarnya sudah ditarik sejak 22 Juli tahun lalu, dan akan hangus jika dalam waktu 12 bulan hadiahnya tak diambil.
Selama 10 bulan itu, dia tidak menyadari bahwa dirinya telah memenangi lotre bernilai jutaan dollar itu. “Sering kali saya berpikir untuk mengecek tiket lotre itu dan berpikir memenanginya. Dengan demikian, saya dapat membantu ibu dan ayah keluar dari kesulitan keuangan,” kata gadis itu seperti dikutip pihak agen lotre.
Tidak disebutkan bagaimana ceritanya sampai akhirnya mahasiswi itu mengetahui bahwa dirinya memenangi lotre dan kemudian mengambil hadiahnya.
Untuk apa uang sebesar itu? Seperti dikutip agen, mahasiswi itu akan memberikan sebagian di antaranya untuk kepentingan riset dan karitatif. “Sungguh sangat menyenangkan mempunyai uang begitu banyak seperti yang saya impikan selama ini. Juga yang diimpikan orang-orang yang dekat dengan saya,” kata mahasiswi itu.
Sumber : Kompas.Com
Kisah Pramugari
Saya adalah seorang pramugari biasa dari China Airline, karena bergabung dengan perusahaan penerbangan hanya beberapa tahun dan tidak mempunyai pengalaman yang mengesankan, setiap hari hanya melayani penumpang dan melakukan pekerjaan yang monoton.
Pada tanggal 7 Juni yang lalu saya menjumpai suatu pengalaman yang membuat perubahan pandangan saya terhadap pekerjaan maupun hidup saya.
Hari ini jadwal perjalanan kami adalah dari Shanghai menuju Peking, penumpang sangat penuh pada hari ini.
Diantara penumpang saya melihat seorang kakek dari desa, merangkul sebuah karung tua dan terlihat jelas sekali gaya desanya, pada saat itu saya yang berdiri dipintu pesawat menyambut penumpang kesan pertama dari pikiran saya ialah zaman sekarang sungguh sudah maju seorang dari desa sudah mempunyai uang untuk naik pesawat.
Ketika pesawat sudah terbang, kami mulai menyajikan minuman, ketika melewati baris ke 20, saya melihat kembali kakek tua tersebut, dia duduk dengan tegak dan kaku ditempat duduknya dengan memangku karung tua bagaikan patung.
Kami menanyakannya mau minum apa, dengan terkejut dia melambaikan tangan menolak, kami hendak membantunya meletakan karung tua diatas bagasi tempat duduk juga ditolak olehnya, lalu kami membiarkannya duduk dengan tenang, menjelang pembagian makanan kami melihat dia duduk dengan tegang ditempat duduknya, kami menawarkan makanan juga ditolak olehnya.
Akhirnya kepala pramugari dengan akrab bertanya kepadanya apakah dia sakit, dengan suara kecil dia mejawab bahwa dia hendak ke toilet tetapi dia takut apakah dipesawat boleh bergerak sembarangan, takut merusak barang didalam pesawat.
Kami menjelaskan kepadanya bahwa dia boleh bergerak sesuka hatinya dan menyuruh seorang pramugara mengantar dia ke toilet, pada saat menyajikan minuman yang kedua kali, kami melihat dia melirik ke penumpang disebelahnya dan menelan ludah, dengan tidak menanyakannya kami meletakan segelas minuman teh dimeja dia, ternyata gerakan kami mengejutkannya, dengan terkejut dia mengatakan tidak usah, tidak usah, kami mengatakan engkau sudah haus minumlah, pada saat ini dengan spontan dari sakunya dikeluarkan segenggam uang logam yang disodorkan kepada kami, kami menjelaskan kepadanya minumannya gratis, dia tidak percaya, katanya saat dia dalam perjalanan menuju bandara, merasa haus dan meminta air kepada penjual makanan dipinggir jalan dia tidak diladeni malah diusir.
Pada saat itu kami mengetahui demi menghemat biaya perjalanan dari desa dia berjalan kaki sampai mendekati bandara baru naik mobil, karena uang yang dibawa sangat sedikit, hanya dapat meminta minunam kepada penjual makanan dipinggir jalan itupun kebanyakan ditolak dan dianggap sebagai pengemis.
Setelah kami membujuk dia terakhir dia percaya dan duduk dengan tenang meminum secangkir teh, kami menawarkan makanan tetapi ditolak olehnya.






